Minggu, 19 Juni 2011

KANAN DAN KIRI

Saya sendiri sudah lama menyimpan tulisan ini, mungkin hampir 4 bulan yang lalu. Saya juga lupa mengapa saya beri judul kanan dan kiri. Tapi tidak ada salahnya berbagi, karena saya rasa ini bukan berita yang hanya berlaku untuk satu hari saja, bisa dibaca kapanpun. Sambil minum kopi atau minum teh. :D

Sangat menarik artikel yang saya baca di harian seputar indonesia ysng ditulis oleh seorang Guru Besar Fakultas Psikologi UI. Artikel tersebut berjudul dari timur ke barat. Dari keseluruhan artikel tersebut yang menarik adalah menyoal perbedaan antara Timur dan Barat. Artikel tersebut juga memberikan contohnya, Yang membedakan Barat dan Timur adalah cara berpikirnya. Gerard Hendrik Hofstede,seorang sosiolog Belanda, pernah mengadakan penelitian di sebuah perusahaan multinasional yang punya cabang di berbagai negara Barat (Eropa Barat dan Amerika Utara) dan Timur (Asia dan Amerika Latin), dan menemukan empat perbedaan antara para pegawai di Barat dan di Timur. Pertama,orang Barat lebih individualis, sedangkan orang Timur kolektivis (CEO Amerika memutuskan sendiri,sedangkan CEO Jepang perlu rapat dulu berkalikali). Di Timur jarak kekuasaan (power distance) lebih kuat ketimbang di Barat (di Indonesia staf harus menghadap pimpinan untuk melapor,di Barat cukup melalui telepon). Perbedaan ketiga adalah bahwa orang Barat lebih maskulin (kompetitif, ambisi, prestasi), sementara di Timur orang lebih feminin (jaga hubungan baik,jaga perasaan orang,dan tidak boleh terlalu terbuka). Akhirnya, kata Hofsetede, orang Barat lebih berani ambil risiko dalam ketidakpastian ketimbang orang Timur.
Hampir semua orang pernah merasakan perbedaan ini, terutama mereka yang bergaul dengan komunitas timur maupun barat. Menyoal power distance, saya sebagai mahasiswa sering mengalaminya. Beberapa dosen (banyak) yang tidak ingin di-sms oleh mahasiswanya, dosen tersebut hanya mau menjawab telepon jika mahasiswa butuh bertemu dengannya. Dosen seolah-olah tidak paham bahwa kantong mahasiswa terbatas. Untuk sms saja, masih harus minta kanan-kiri, apalagi telepon. Mereka seolah-olah “Gila hormat” kata para mahasiswa. Oleh karena power distance yang tinggi tersebut, terkadang mahasiswa enggan berdekatan dengan dosen, fenomena unik ini dapat dilihat saat berada di lift. Jika lift cukup kosong, mahasiswa akan memilih berdiri jauh dari dosennya, baik yang sudah dikenal apalagi yang belum. Mahasiswa masih harus tegur sapa saat bertemu dosen, setidaknya menundukkan kepala sekedar menunjukkan rasa hormat. Mungkin itulah salah satu kelebihan Timur, rasa hormat masih dijunjung tinggi. Adalagi peraturan tidak tertulis bahwa mahasiswa dilarang duduk-duduk di kursi lobby yang empuk itu. “Memang kalian tamu, duduk-duduk disana” kata salah satu dosen. “.....” kata mahasiswa. Semoga hal tersebut tidak terjadi di universitas lain.

Sayangnya, hal itu (mahasiswa yang ......) terbawa hingga perkuliahan, sehingga cukup jarang mahasiswa yang menentang pendapat dosennya, demi menjaga rasa hormat dan aman. Mahasiswa akan merasa aman dalam hal nilai apabila ia cari aman dengan dosennya, angguk-angguk kepala saja.

Mungkin hal yang telah saya paparkan tersebut tidak berlaku disemua universitas. Dosen yang mengajar di universitas yang berbeda pun mengakui perbedaan tersebut. Tetapi saya rasa, sebagus dan seterbuka apapun universitasnya, pasti ada dosen model semacam itu. Memang perlu diteliti lebih lanjut mengenai hal tersebut. Adakah yang berminat untuk menelitinya, bagaimana fenomena power distance ini berlangsung, yah mulai dari contoh terkecil yaitu keseharian kita? Pertanyaannya apakah power distance yang jauh dapat dibenarkan atas nama sopan santun?

Sabtu, 26 Februari 2011

Catatan Sepak Bola

Sengketa Arsenal-Barcelona: Pembelian Toral Tak Bermoral?

Saturday, 26 February 2011
Membajak penghuni La Masia tampaknya menjadi salah satu modus Arsenal dalam membangun fondasi tim.

Betapa tidak, sejak 2003 sudah empat alumnus akademi Barcelona yang masyhur itu diboyong ke London. Yang pertama tentu kita semua tahu, Francesc ‘Cesc’ Fabregas. Empat tahun kemudian Fran Merida mengikuti jejak seniornya itu, menyusul Ignasi Miquel Pons tahun berikutnya. Yang paling anyar tentu saja Jon Miguel Toral Harper, remaja dari seorang ibu berkebangsaan Inggris dan ayah Spanyol. Caranya selalu sama, setiap penghuni La Masia yang dianggap punya prospek bagus langsung dibidik dan ditawari kontrak saat usianya menginjak 16 tahun. Dibawa ke London, ditempa untuk beberapa saat lalu disajikan ke tim utama ketika sudah siap.

Celah regulasi memang memungkinkan Arsene Wenger menjalankan aksinya itu. Hukum di Inggris membolehkan seorang pemain menandatangani kontrak profesional kalau sudah berusia 16 tahun. Sebaliknya, di Spanyol, seorang pemain baru bisa melakukannya ketika berusia 17 tahun. Atas kasus ini, Presiden Barcelona Sandro Rosell pun angkat bicara. Dia menilai apa yang dilakukan Wenger sebagai immoral alias tidak bermoral. ”Secara hukum, mereka memang tidak melanggar apa-apa, namun itu tidak bermoral,” tandas Rosell kepada The Sun. ”Buat kami, sangat penting untuk menjaga anak-anak ini agar tumbuh bersama di La Masia.

Kami tak suka klubklub datang kemari dan menawari uang tak lama setelah mereka berusia 16 tahun.” Rosell bahkan dengan sinis mengatakan: ”Ada dua filosofi. Kami yang berinvestasi, mereka yang menanggok, persis seperti yang dilakukan Arsenal.” Namun, ketika satu jari mengacung ke Wenger, tiga jari lainnya mengarah ke Rosell dan klub yang dipimpinnya. Saat usia berapa Lionel Messi diboyong ke La Masia? Pada usia 13 tahun. Pernahkah Anda mendengar Newell’s Old Boys–klub junior Messi–mengeluarkan katakata immoral kepada Barca? Saya tidak pernah. Para talent scout La Masia berburu pemain saat usia berapa? Sebelum akil balik. Dari mana saja? Seluruh penjuru dunia. Berapa banyak kerutan di dahi Wenger? Ada delapan. Jumlah tahun Barca memburu Cesc secara maraton.

Betulkah Cesc milik The Gunners? Ya, kontrak terbarunya ditanda-tangani bulan April sebelum Piala Dunia (PD) 2010. Berapa nilainya? Cesc menerima langsung 3 juta pounds sebagai ”kompensasi” atas pembayaran underpaid selama dua tahun pertama membela Arsenal dan gaji 110.000 pounds (kurs Rp 15.000 = Rp 1,65 miliar) per pekan. Seandainya dulu Cesc memutuskan tetap menghuni Camp Nou, apakah dia akan tampil sebanyak dia di Arsenal? Kalau Anda menjawab ”ya”, itu sama saja Anda mengatakan Cesc lebih pantas mengisi lini tengah Barca dibandingkan Xavi dan Andres Iniesta. Apakah tampil reguler di Arsenal membuatnya matang? Tentu saja.

Lihatlah ban kapten melingkar di lengannya. Apakah karena kematangannya itu Barca memburunya? Sudah pasti. Apa seragam yang dikenakan Cesc seusai membantu Spanyol memuncaki Piala Dunia 2010? El Matador? Salah! Barca. Secara paksa dia dikalungi jersey bergaris ”biru-merah” oleh Carles Puyol dan Gerard Pique. Itu hanya joke! Oke, Cesc digaji begitu besar untuk bahan lelucon? Pernahkah Anda mendengar Wenger mengeluarkan kata-kata (lagi-lagi) immoral atas joke itu? Saya tidak. Atau begini saja.

Bagaimana seandainya Iker Casillas dan Sergio Ramos mengalungkan seragam Real Madrid kepada Puyol? Coba tanya kepada Barcelonistas. Saya khawatir kali ini bukan hanya kepala babi dan handphone yang melayang. Pembaca, sebelum artikel ini diakhiri, mari kita kembali ke kasus Toral. Siapakah agennya yang berperan dalam kepindahannya ke Emirates Stadium? Pere Guardiola. Siapa dia? Saudara kandung Pelatih Barca saat ini, Pep Guardiola. Logiskah Pere yang notabene Katalan sejati menyarankan Toral hengkang ke London ketimbang membela El Azulgrana? Jawabannya tidak, meski Anda berhak mengatakan sebaliknya.

Lalu, kenapa Toral memutuskan pindah? Tentu, karena pertimbangan pribadi terkait masa depan yang lebih baik. Kini, dengan semua fakta di atas, masihkah Rosell mau mengatakan Arsenal tak bermoral? Atau kini sang presiden harus mulai menjilat ludahnya sendiri. ■

Catatan Sepak Bola
HARIS PARDEDE MA
Sports Management Inggris

Rabu, 02 Februari 2011

Moment

Moment
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Namun, terkadang kita tidak menyadari pintu yang terbuka itu karena kita menyesali pintu yang tertutup itu terlalu lama. - Alexander Graham Bell-

Setiap orang mempunyai momentnya masing-masing. Hal tersebut saya sadari hanya dari sebuah contoh sederhana yaitu pertandingan Blackpool vs Manchester United yang berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Manchester United. Blackpool unggul 2-0 terlebih dahulu bahkan hingga babak pertama usai. Namun, di babak kedua MU bisa mengejar defisit 2 gol bahkan menjadi 3 gol.
Pada babak pertama, pertandingan seolah-olah menjadi milik Blackpool. Terlihat ekspresi kegembiraan pemain Blackpool, mereka hanya sebuah tim kecil tetapi mampu mengungguli MU dengan 2 gol. Pada saat itulah momen pemain Blackpool. Mereka merasakan kegembiraan yang luar biasa seolah keberuntungan memihak mereka.
Pada babak kedua, momen tersebut berbalik menjadi milik pemain MU. Mereka juga harus bekerja keras untuk mendapatkan momen tersebut. Saat kedudukan 2-1, momen tersebut masih menjadi milik pemain Blackpool, hal tersebut tampak dari ekspresi para pemain MU yang tidak merayakan gol tersebut. Namun, saat kedudukan 3-2 untuk keunggulan MU tampak bahwa ini momennya dan momen Blackpool telah berakhir.

Saya bukan seorang pengamat sepakbola, namun pertandingan tersebut adalah contoh bahwa saat-saat terbaik dalam hidup dapat diperoleh dari usaha. Ada saatnya kita memperoleh saat terbaik dalam hidup dan ada saatnya kita kehilangan saat-saat terbaik. Hal itu hanya 1 halaman dari buku kehidupan. Terkadang timbul pikiran, mengapa, MU tidak unggul 3-0 sejak awal atau Blackpool kalah saja sejak awal, tidak perlu memberikan harapan palsu kepada Blackpool. Itulah yang dinamakan proses, sama halnya dengan bayi yang belajar merangkak dahulu, baru kemudian berjalan. Tanpa proses, seperti ada lembar yang hilang dari buku kehidupan. Seseorang yang sedang menempuh pendidikan akan mengalami proses belajar, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, kemudian akan ada nilai sebagai output proses pembelajaran. Namun, hal yang menjadi salah adalah saat output berupa nilai ini dianggap segala-galanya. Manusia sering lupa bahwa banyak faktor X yang mempengaruhi output, proses sering dilupakan. Padahal, moment yang paling berharga bagi seseorang yang sedang belajar adalah menikmati setiap prosesnya, gagal, lelah, kemudian berhasil.

Kamis, 27 Januari 2011

Cinta dan Waktu

cerita ini dikutip dari sebuah siaran radio. betapa, hal-hal yang ada bersamaan dengan datangnya cinta terkadang tidak berguna.

Alkisah di suatu pulau di negeri anatah berantah terjadi bencana alam yang besar, yaitu banjir bandang. Semua penduduk mengungsi ke semua pulau. Sayanganya ada seorang penduduk yang belum mendapat tumpangan utuk pergi ke sebuah pilau, dia lah Cinta. Teman teman Cinta sudah mulai lewat satu persatu, namun tak seorangpun yang lwat menawarkan tumpangan. Cinta mulai panik dan berteriak-teriak minta tolong. Kemudian Cinta melihat temanya, Kecantikan.
“Kecantikan maukah kamu memberiku tumpangan untuk mengungsi?.” Cinta memohon.
“Tidak bisa Cinta, Kau sudah jelek, kotor dan basah aku tidak bisa memberikan tumpangan, nanti aku jadi kotor dan tidak cantik lagi, maaf ya Cinta.” Kata Kecantikan.
Cinta pasrah mendengar ucapan Kecantikan. Beberaapa saat kemudian, Cinta melihat temannya yang lain, Kesedihan. Kemudian Cinta memanggilnya.
“Kesedihan maukah kamu memberiku tumpangan untuk mengungsi ?.” Cinta kembali memohon
“Maaf Cinta aku sedang bersedih dan tak ingin ditemani siapa pun.”
Cinta benar-benar putus asa mendengar ucapan kesedihan. Tak beberapa lama, teman Cinta yang lain, yaitu Kebahagiaan lewat. Cinta berteriak-teriak memanggil namanya, tetapi Kebahagiaan tidak mendengar karena begitu bahagia dirinya bisa pergi mengungsi. Air sudah semakin tinggi, sebentar lagi Cinta pasti tenggelam dalam keadaan yang sudah terjepit, muncullah teman Cinta, yaitu Waktu. Waktu langsung menawarkan bantuan kepada Cinta. Cinta benar-benar bahagia bisa selamat.
“Waktu kenapa kamu mau menolongku, aku kan kotor dan basah”
“Kamu tahu Cinta, hanya Waktu yang tahu betapa berharganya Cinta”

Selasa, 25 Januari 2011

Puisi

AKU TELAH SEPAKAT UNTUK BEKERJA
BAGI KEHIDUPAN DEMI UPAH SATU PENNY,
DAN DIA MENOLAK MEMBERIKU LEBIH,
SAAT KUSADARI BETAPA KECILNYA UPAH ITU.
DIA TAK LEBIH DARI SEORANG MAJIKAN, YANG MEMBERIKAN APA YANG KAU MINTA,
DAN BILA HARGA KERINGATM TELAH DISEPAKATI,BAGAIMANAPUN JUGA, LUNASILAH TANGGUNG JAWABMU.
HARI ITU AKU BEKERJA DEMI UPAH SEORANG KULI,
KETIKA KUSADARI AKAN KEBODOHANKU, BAHWA BERAPAPUN KAU MEMINTA DARI KEHIDUPAN,
DENGAN SENAG HATI DIA AKAN MEMENUHINYA.

Puisi tersebut bisa ditemukan di buku Think And Grow Rich karya Napoleon Hill. Puisi tersebut menyadarkan saya bahwa kehidupan itu tidak kejam, kehidupan itu adil. Hanya, dibutuhkan negosiasi untuk mendapatkan keuntungan dari kehidupan

Rabu, 19 Januari 2011

Masihkah kau bekerja Pak Pos?

Ide ini tiba-tiba muncul ketika saya membaca pengalaman seorang penulis yang memperoleh pengalaman dalam menuangkan gagasan kepada sahabat penanya. Saya kembali teringat pada pengalaman saya saat menulis surat kepada orang-orang terdekat. Waktu itu saya sering menulis surat untuk ayah saya yang berkerja di Natuna, untuk nenek saya di kampung, mengirim kartu lebaran, ataupun mengirim jawaban kuis di majalah anak-anak. Masa itu saya akrab sekali dengan surat menyurat.

Rasanya sudah lebih dari sepuluh tahun saya tidak pergi ke kantor pos untuk mengirim surat. Masa-masa saat saya sering ke kantor adalah saat saya masih sekolah dasar. Saat itu letak kantor pos dekat sekali dengan dengan sekolah, tepatnya berada di belakang sekolah. Kantor pos itu tidak terlalu besar, hanya berukuran 4 x 5 meter, lembab, dan tampak suram karena terletak dibawah rindangnya pohon.

Seingat saya, waktu itu biaya mengirim surat ke ayah saya di Natuna cukup mahal. Suratnya ditimbang dahulu, kemudian baru dihitung biayanya. Sampai sekarang saya tidak mengerti kenapa surat tersebut harus ditimbang, karena biasanya hanya paket barang yang ditimbang. Saat itu sarana untuk menghubungi ayah saya hanya lewat surat, telepon interlokal terlalu mahal harganya walaupun hanya bicara sebentar.

Lain lagi pengalaman saat mengirim surat ke nenek saya di Sumatera Selatan. Hal yang paling saya ingat adalah bahasa yang digunakan, saya menyebut nenek saya nenenda dan saya sendiri cucunda. Sampai saat ini saya masih ragu, apakah ada istilah nenenda dan cucunda dalam bahasa Indonesia yang benar. Saya juga berusaha membuat bahasanya sesopan mungkin. Biasanya isi surat tersebut mengabarkan bahwa bisa atau tidaknya kami sekeluarga pulang kampung lebaran nanti. Balasan surat dari nenek saya tak lain menggunakan bahasa daerah, akhirnya ibu sayalah yang bertugas membacakan sambil menerjemahakan agar saya mengerti. Desa tempat tinggal nenek saya merupakan desa terpencil, tidak ada telepon disana, jadi surat menyurat adalah satu-satunya jalan.

Selain surat-menyurat dengan keluarga, pos juga saya gunakan untuk mengirim kartu lebaran dan kartu pos. Saya senang mengirim kartu pos yang berisi jawaban kuis di majalah anak-anak, walaupun hadiahnya tidak seberapa. Sayangnya saya tidak pernah menang dalam kuis apapun yang saya ikuti, sampai saya ragu apakah kartu pos saya benar-benar sampai.

Sepuluh tahun kemudian, hari ini saya teringat kembali akan pengalaman saya. Sayang sekali saya tidak sempat merasakan mengirim telegram atau wesel. Keduanya hanya teori saat sekolah dasar, bahwa telegram dihitung biayanya berdasarkan huruf. Kemudian muncul pertanyaan, apakah pak pos masih bekerja sekarang, apakah PT Pos harus melakukan pengurangan pegawai, dan lain-lain. Pertanyaan pertama akhirnya terjawab saat saya ingat kembali, saya pernah mendapat kiriman paket dari orangtua saat saya kuliah di luar kota, kemudian saya juga pernah mengirim paket untuk orangtua saya. Kalau tidak diburu waktu, pos akan menjadi pilihan utama karena biayanya lebih murah. Saat ini pos memiliki banyak saingan dari berbagai macam perusahan swasta yang menyediakan jasa pegiriman kilat. Yang paling cepat bisa sampai dalam 3 jam. Semoga masih ada orang yang rindu akan cara ‘tradisional’ menyampaikan berita, sehingga Pak Pos masih dapat bekerja.

Senin, 17 Januari 2011

Daya Juang yang Tidak Bernilai

Perjuangan adalah proses, hasil akhirnya kemenangan atau kekalahan. Bentuk perjuangan akan berbeda-beda bagi setiap orang. Seorang ayah akan berjuang untuk menghidupi keluarganya, pelajar berjuang untuk mencapai cita-citanya. Setidaknya, selama ini itulah perjuangan yang saya kenal. Namun, saat ini saya mengetahui ada perjuangan yang hanya dilakukan di akhir. Analoginya adalah, seorang pelajar berusaha memperoleh ilmu, ia rajin masuk kelas, mengerjakan tugas dengan tepat waktu dan sebaik mungkin. Saya rasa hal tersebut adalah perjuangan yang sesungguhnya. Bandingkan dengan seorang pelajar yang malas masuk kelas, malas mengerjakan tugas, atau bahkan terlambat mengumpulkan, tetapi mendapatkan kemenangan yang sama dengan orang yang melakukan perjuangan dengan sungguh-sungguh seperti contoh pertama. Fenomena daya juang yang tidak bernilai ini sadar atau tidak kita sadari ada di lingkungan kita. Sayangnya, hal yang menyebabkan ini terjadi adalah lingkungan yang juga mendukung ketidakbernilaian proses yang disebut perjuangan. Contohnya adalah, adanya tes-tes instan semacam Ujian Nasional, SNMPTN, tes CPNS. Dalam dunia pendidikan, memang output dinilai dengan angka. Asalkan nilai mencukupi standar, tidak maslah bagaimana prosesnya, ia boleh jarang masuk kelas, boleh terlambat, boleh tidak mengumpulkan tugas, dan semacam itulah.
Saya setuju setidaknya 50% bahwa daya juang generasi muda saat ini sangatlah kurang, mereka menginginkan sesuatu yang instan. Mungkinkah ada hubungannya dengan berbagai makanan instan yang banyak saat ini. Perjuangan memang abstrak, terkadang diri sendiripun tidak dapat menilai seoptimal apa perjuangan yang telah dilakukan. Output berupa angka masih menjadi acuan. Kembali lagi bahwa output tersebut masih dapat diperjuangkan didukung dengan fakta-fakta dan argumentasi yang kuat. Memang beberapa orang mengatakan bahwa hidup itu tidak adil, tetapi saya percaya bahwa hidup itu adil, dan hanya waktu yang membuktikan.
Kesadaran akan hal tersebut memang datang terlambat kepada saya pribadi, tetapi saya berjanji bahwa saya akan memperjuangkan proses bukan hasil akhir . lets start together.